Tampilkan postingan dengan label Syirik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syirik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 November 2011

Jangan Salahkan Bulan Suro

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Bulan Suro –yang dalam Islam dikenal dengan bulan Muharram- terkenal sakral dan penuh mistik di kalangan sebagian orang. Saking sakralnya berbagai keyakinan keliru bermunculan pada bulan ini. Berbagai ritual yang berbau syirik pun tak tertinggalan dihidupkan di bulan ini. Bulan Muharram dalam Islam sungguh adalah bulan yang mulia. Namun kenapa mesti dinodai dengan hal-hal semacam itu?

Bulan Muharram Termasuk Bulan Haram

Dalam agama ini, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro), merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut (yang artinya), ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.”[1]

Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”[2]

Bulan Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah)

Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[3]

Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?” Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah (yaitu Muharram)[4] Jelaslah bahwa bulan Muharram adalah bulan yang sangat utama dan istimewa.

Bulan Suro, Bulan Penuh Bencana dan Musibah

Itulah berbagai tanggapan sebagian orang mengenai bulan Suro atau bulan Muharram. Sehingga kita akan melihat berbagai ritual untuk menghindari kesialan, bencana, musibah dilakukan oleh mereka. Di antaranya adalah acara ruwatan, yang berarti pembersihan. Mereka yang diruwat diyakini akan terbebas dari sukerta atau kekotoran. Ada beberapa kriteria bagi mereka yang wajib diruwat, antara lain ontang-anting (putra/putri tunggal), kedono-kedini (sepasang putra-putri), sendang kapit pancuran (satu putra diapit dua putri). Mereka yang lahir seperti ini menjadi mangsa empuk Bhatara Kala, simbol kejahatan.

Karena kesialan bulan Suro ini pula, sampai-sampai sebagian orang tua menasehati anaknya seperti ini: ”Nak, hati-hati di bulan ini. Jangan sering kebut-kebutan, nanti bisa celaka. Ini bulan suro lho.”

Karena bulan ini adalah bulan sial, sebagian orang tidak mau melakukan hajatan nikah, dsb. Jika melakukan hajatan pada bulan ini bisa mendapatkan berbagai musibah, acara pernikahannya tidak lancar, mengakibatkan keluarga tidak harmonis, dsb. Itulah berbagai anggapan masyarakat mengenai bulan Suro dan kesialan di dalamnya.

Ketahuilah saudaraku bahwa sikap-sikap di atas tidaklah keluar dari dua hal yaitu mencela waktu dan beranggapan sial dengan waktu tertentu. Karena ingatlah bahwa mengatakan satu waktu atau bulan tertentu adalah bulan penuh musibah dan penuh kesialan, itu sama saja dengan mencela waktu. Saatnya kita melihat penilaian agama Islam mengenai dua hal ini.

Mencela Waktu atau Bulan

Perlu kita ketahui bersama bahwa mencela waktu adalah kebiasaan orang-orang musyrik. Mereka menyatakan bahwa yang membinasakan dan mencelakakan mereka adalah waktu. Allah pun mencela perbuatan mereka ini. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ”Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al Jatsiyah: 24). Jadi, mencela waktu adalah sesuatu yang tidak disenangi oleh Allah. Itulah kebiasan orang musyrik dan hal ini berarti kebiasaan yang jelek.

Begitu juga dalam berbagai hadits disebutkan mengenai larangan mencela waktu. Di antaranya terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.”[5]

Jelaslah bahwa mencela waktu adalah sesuatu yang telarang, bisa jadi haram, bahkan bisa termasuk perbuatan syirik. Kenapa demikian? Karena Allah sendiri mengatakan bahwa Dia-lah yang mengatur siang dan malam. Apabila seseorang mencela waktu dengan menyatakan bahwa bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat celaka, maka sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah ’Azza wa Jalla.

Merasa Sial dengan Waktu Tertentu

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Beranggapan sial termasuk kesyirikan, beranggapan sial termasuk kesyirikan. (Beliau menyebutnya tiga kali, lalu beliau bersabda). Tidak ada di antara kita yang selamat dari beranggapan sial. Menghilangkan anggapan sial tersebut adalah dengan bertawakkal.”[6]

Ini berarti bahwa beranggapan sial dengan sesuatu baik dengan waktu, bulan atau beranggapan sial dengan orang tertentu adalah suatu yang terlarang bahkan beranggapan sial termasuk kesyirikan.

Jangan Salahkan Bulan Suro!

Ingatlah bahwa setiap kesialan atau musibah yang menimpa, sebenarnya bukanlah disebabkan oleh waktu, orang atau tempat tertentu! Namun, semua itu adalah ketentuan Allah Ta’ala Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Satu hal yang patut direnungkan. Seharusnya seorang muslim apabila mendapatkan musibah atau kesialan, hendaknya dia mengambil ibroh bahwa ini semua adalah ketentuan dan takdir Allah serta berasal dari-Nya. Allah tidaklah mendatangkan musibah, kesialan atau bencana begitu saja, pasti ada sebabnya. Di antara sebabnya adalah karena dosa dan maksiat yang kita perbuat. Inilah yang harus kita ingat, wahai saudaraku. Perhatikanlah firman Allah ’Azza wa Jalla (yang artinya), ”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy Syuraa: 30)

Syaikh Sholih bin Fauzan hafizhohullah mengatakan, ”Jadi, hendaklah seorang mukmin bersegera untuk bertaubat atas dosa-dosanya dan bersabar dengan musibah yang menimpanya serta mengharap ganjaran dari Allah Ta’ala. Janganlah lisannya digunakan untuk mencela waktu dan hari, tempat terjadinya musibah tersebut. Seharusnya seseorang memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya serta ridho dengan ketentuan dan takdir-Nya. Juga hendaklah dia mengetahui bahwa semua yang terjadi disebabkan karena dosa yang telah dia lakukan. Maka seharusnya seseorang mengintrospeksi diri dan bertaubat kepada Allah Ta’ala.”[7]

Jadi, waktu dan bulan tidaklah mendatangkan kesialan dan musibah sama sekali. Namun yang harus kita ketahui bahwa setiap musibah atau kesialan yang menimpa kita sudah menjadi ketetapan Allah dan itu juga karena dosa yang kita perbuat. Maka kewajiban kita hanyalah bertawakkal ketika melakukan suatu perkara dan perbanyaklah taubat serta istighfar pada Allah ’Azza wa Jalla.

Lalu pantaskah bulan Suro dianggap sebagai bulan sial dan bulan penuh bencana? Tentu saja tidak. Banyak bukti kita saksikan. Di antara saudara kami, ada yang mengadakan hajatan nikah di bulan Suro, namun acara resepsinya lancar-lancar saja, tidak mendapatkan kesialan. Bahkan keluarga mereka sangat harmonis dan dikaruniai banyak anak. Jadi, sebenarnya jika ingin hajatannya sukses bukanlah tergantung pada bulan tertentu atau pada waktu baik. Mengapa harus memilih hari-hari baik? Semua hari adalah baik di sisi Allah. Namun agar hajatan tersebut sukses, kiatnya adalah kita kembalikan semua pada Yang Di Atas, yaitu kembalikanlah semua hajat kita pada Allah. Karena Dia-lah sebaik-baik tempat bertawakal. Inilah yang harus kita ingat.

Isilah Bulan Muharram dengan Puasa

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong kita untuk banyak melakukan puasa pada bulan tersebut sebagaimana sabdanya, “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[8]

Dari hari-hari yang sebulan itu, puasa yang paling ditekankan untuk dilakukan adalah puasa pada hari ’Asyura yaitu pada tanggal 10 Muharram. Berpuasa pada hari tersebut akan menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata, “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”[9]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad di akhir umurnya untuk melaksanakan puasa ‘Asyura tidak bersendirian, namun diikutsertakan dengan puasa pada hari lainnya. Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.[10]

Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan.[11]

Intinya, kita lebih baik berpuasa dua hari sekaligus yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Karena dalam melakukan puasa ‘Asyura ada dua tingkatan yaitu: [1] Tingkatan yang lebih sempurna adalah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram sekaligus, dan [2] Tingkatan di bawahnya adalah berpuasa pada 10 Muharram saja.[12]

Insya Allah tanggal 10 Muharram jatuh pada tanggal 27 Desember 2009 sedangkan tanggal 9 Muharram jatuh pada tanggal 26 Desember 2009.

Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amalan puasa ini. Hanya Allah yang memberi taufik. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. [Muhammad Abduh Tuasikal, ST]

_____________

[1] HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679
[2] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, tafsir surat At Taubah ayat 36, 3/173, Mawqi’ At Tafasir
[3] HR. Muslim no. 2812
[4] Syarh Suyuthi li Sunan An Nasa’i, Abul Fadhl As Suyuthi, 3/206, Al Maktab Al Mathbu’at Al Islami, cetakan kedua, tahun 1406 H
[5] HR. Muslim no. 6000
[6] HR. Abu Daud no. 3912. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 429. Lihat penjelasan hadits ini dalam Al Qoulul Mufid – Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah
[7] Lihat I’anatul Mustafid dan Syarh Masa’il Jahiliyyah
[8] HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah.
[9] HR. Muslim no. 1162.
[10] HR. Muslim no. 1134, dari Ibnu ‘Abbas.
[11] Lihat Al Minhaj Syarh Muslim, 8/12-13.
[12] Lihat Tajridul Ittiba’, Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaili, hal. 128, Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, tahun 1428 H.

Rabu, 23 Juli 2008

Syirik Asghar

Al-Imam adz-Dzahabi di dalam kitab al-Kabair menyebutkan beberapa fenomena dan bentuk syirik ashghar (syirik kecil), di antaranya yaitu:

1.Riya' Dalam Beribadah.

Barang siapa yang melakukan ibadah atau qurbah (amalan untuk mendekatkan diri kepada ALLAH ), namun bertujuan untuk ALLAH dan agar dilihat atau dipuji manusia maka dia telah melakukan syirik ashghar. Sehingga amalan yang dia kerjakan sia-sia dan ditolak. Dalil yang menjelaskan hal itu adalah sebuah hadits qudsi dari dari Rasulullah, bahwa ALLAH berfirman, artinya, "Aku tidak membutuhkan sekutu-sekutu, barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan di dalamnya menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya." (HR Muslim)

2.Bersumpah dengan Selain ALLAH

Di antara bentuk syirik ashghar yang banyak terjadi di masyarkat adalah bersumpah dengan selain ALLAH. Rasulullah telah bersabda,
"Barang siapa yang bersumpah dengan selain ALLAH maka dia telah menyekutukan ALLAH." (HR. Ahmad, shahihul jami' no.6204)

Beliau juga telah bersabda, "Ketahuilah, sesungguhnya ALLAH telah melarang kalian bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian. Barang siapa bersumpah maka hendaknya dia bersumpah dengan nama ALLAH atau (kalau tidak) hendaknya dia diam." (HR. al-Bukhari, al-Fath 11/530)

Maka tidak dibolehkan seorang muslim bersumpah dengan menyebut selain ALLAH meskipun tidak bertujuan untuk mengagungkan makhluk dengan sumpah itu. Dan walaupun yang digunakan untuk bersumpah adalah seorang nabi atau orang shalih. Sebagaimana tidak boleh bersumpah dengan menyebut Ka'bah, dengan amanat, kemuliaan, kehidupan fulan, nabi, wali, tidak boleh pula bersumpah dengan nama bapak, ibu, anak, dengan barakahnya si fulan dan kedudukannya. Semua ini hukumnya haram, karena bersumpah hanya dibolehkan dengan menyebut ALLAH, nama-nama dan sifat-sifat-NYA.

Barang siapa yang terlanjur mengucapkan sumpah yang diharamkan tersebut maka hendaknya dia mengucapkan la ilaha illallah kemudian beristighfar dan tidak mengulangi perbuatan semisal itu. Nabi telah bersabda, "Barang siapa yang bersumpah dan dia berkata di dalam sumpahnya tersebut dengan menyebut Latta dan Uzza maka hendaknya dia mengucapkan la ilaha illallah." (HR al-Bukhari di dalam al-Fath 11/546)

Di samping itu ada beberapa kalimat yang mengandung kesyirikan dan sering diucapkan oleh banyak orang, seperti; Aku bertawakkal (bersandar) kepada ALLAH dan kepadamu; Aku tidak kuasa apa-apa kalau tidak karena ALLAH dan karenamu; Kalau saja bukan karena ALLAH dan karenamu; Ini dari ALLAH dan darimu atau lafal-lafal lain yang semakna dengan ini. Rasulullah telah bersabda, "Janganlah kalian mengucapkan, "Atas kehedak ALLAH dan kehendak fulan" akan tetapi ucapkanlah, "Atas kehendak ALLAH kemudian kehendak fulan." (HR Abu Dawud, dalam silsilah shahihah, 137)

Demikian juga kalimat-kalimat yang berisi celaan terhadap masa (waktu) seperti; ALLAH melaknat zaman yang kelam ini; Ini waktu atau hari pembawa sial dan yang semisalnya. Karena mencela masa adalah sama dengan mencela ALLAH yang telah menciptakan masa tersebut. Nabi bersabda, ALLAH berfirman, artinya, "Anak Adam mencela masa, padahal Akulah Masa itu, di tangan-Ku siang dan malam." (HR. al-Bukhari)

Masuk dalam kategori lafal-lafal yang diharamkan adalah memberikan nama dengan segala sesuatu yang diperhambakan kepada selain ALLAH , seperti Abdul Husain, Abdul Masih, Abdur Rasul, Abdun Nabi dan lain sebagainya.

3. Tathayyur

Yaitu merasa sial karena melihat sesuatu. Tathayyur diambil dari kata thiyarah berasal dari ath-Thair yakni burung. Awal mulanya adalah bahwa dulu orang Arab apabila akan melakukan sesuatu seperti bepergian atau lainnya, maka dia melepaskan burung, kalau burung tersebut terbang ke arah kanan maka dia melanjutkan keinginannya, dan kalau terbangnya ke arah kiri maka dia merasa sial dan mengurungkan keinginannya. Rasulullah telah menjelaskan tentang tathayyur ini dalam sabdanya, "Thiyarah adalah syirik." (HR. Ahmad, Shahihul Jami' 3955)

Dalam sabdanya yang lain disebutkan, "Bukan termasuk golongan kami orang yang melakukan thiyaroh atau diminta untuk berthiyarah, juga orang yang melakukan perdukunan dan minta didukunkan." (HR. ath-Thabrani, silsilah hadits shahihah, 2195)

Masuk ke dalam kategori keyakinan yang merusak kemurnian tauhid adalah merasa sial dengan bulan Shafar, merasa sial dengan hari Jum'at tanggal tiga belas atau dengan angka tiga belas. Ini semua hukumnya haram dan termasuk dalam syirik ashghar.

Obat dari penyakit ini adalah dengan betawakkal sepenuhnya kepada ALLAH. Ibnu Mas’ud radhiyALLAHu ‘anhu berkata, “Thiyarah adalah syirik, dan tidak ada di antara kita kecuali terkadang pada dirinya terlintas sedikit dari tasya’um (rasa sial) ini, akan tetapi ALLAH menghilangkannya dengan sikap tawakkal.” (riwayat Abu Dawud dan al-Bukhari di dalam al-Adabul Mufrad)

4.Meninggalkan Shalat Karena Malas

Sedangkan jika meninggalkannya karena juhud (mengingkari) atas wajibnya shalat tersebut atau beristihza' (mengolok-olok) maka dia kafir keluar dari Islam menurut ijma'. Adapun jika meninggalkannya karena malas atau menganggap enteng maka dia telah melakukan dosa besar yang sangat besar, berdasarkan sabda Nabi, "Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat, maka barang siapa yang meninggalkannya dia telah kafir." (HR Ahmad, shahihul jami', 4143)

“Antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah bila dia meninggalkan shalat." (HR. Muslim)

Dan menurut sebagian ulama, meninggalkan shalat hukumnya adalah kufur akbar berdasarkan dalil di atas dan dalil-dalil yang lainnya meskipun meninggalkannya karena malas dan menganggap enteng. Terlepas dari dua pendapat yang ada, meninggalkan shalat adalah sesuatu yang sangat berbahaya.

Catatan: Pendapat yang lebih kuat yaitu bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas adalah kafir, wallahu a’lam.

5.Jimat dan Sejenisnya

Termasuk syirik adalah berkeyakinan bahwa manfaat atau kesembuhan dapat diperoleh dari benda-benda yang tidak pernah dijadikan oleh ALLAH sebagai sebab untuk mendapatkannya. Seperti keyakinan sebagian orang terhadap jimat-jimat, benda pusaka, tuah, logam-logam tertentu, rajah-rajah syirik yang diberikan dan ditulis oleh para dukun dan tukang sihir. Juga keyakinan terhadap benda peninggalan atau warisan orang tua, kakek, lalu digantungkan di leher anak-anak, istri atau ditaruh di kendaraan, di dalam rumah agar dapat menolak bala', sihir serta memberikan manfaat dan menjadi pagar pelindung.

Semua ini tidak diragukan lagi akan menafikan tawakkal kepada ALLAH. Dan benda-benda itu tidak memberikan manfaat apa-apa kepada manusia. Jika seseorang berkeyakinan bahwa benda-benda tersebut memberikan manfaat, selain ALLAH maka dia telah musyrik. Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang menggantungkan jimat maka dia telah syirik." (HR. Ahmad, silsilah hadits shahihah 492)

Orang yang melakukan itu semua adalah musyrik dengan kemusyrikan yang besar jika dia berkeyakinan bahwa benda-benda tersebut memang memberikan manfaat atau dapat memberikan madharat selain ALLAH. Adapun jika berkeyakinan bahwa benda tersebut hanya merupakan sebab kemanfaatan dan kemadharatan padahal ALLAH tidak menjadikannya sebagai sebab untuk mendapatkannya maka dia terjerumus dalam syirik ashghar. Kita berlindung kepada ALLAH dari semua itu.

Sumber: Mukhtashar Kitab al-Kabair, Imam adz-Dzahabi, muraja’ah dan taqdim Dr. Abdur Rahman ash Shalih al-Mahmud.

www.alsofwah.or.id

Minggu, 20 Juli 2008

The Origins of Shirk

Author: Shaikh Naasir ud-Din al-Albaani
Source: Tahdheerus-Saajid min Ittikhaadhil-Quboori Masaajid

From that which has been established in the Sharee'ah (prescribed law) is that mankind was - in the beginning - a single nation upn true Tawheed, then Shirk (directing any part or form of worship, or anything else that is solely the right of Allah, to other than Allah) gradually overcame them. The basis for this is the saying of Allah - the Most Blessed, the Most high:
"Mankind was one Ummah, then Allah sent prophets bringing good news and warnings." (Surah Baqarah 2:213)

Ibn 'Abbas - radiallaahu 'anhu - said:
"Between Nooh (Noah) and Adam were ten generations, all of them were upon Sharee'ah (law) of the truth, then they differed. So Allah sent prophets as bringers of good news and as warners"(1)

Ibn 'Urwah al-Hanbalee (d.837 H) said:
"This saying refutes those historians from the People of the Book who claim that Qaabil (Cain) and his sons were fire-worshippers"(2)

I say: In it is also a refutation of some of the philosophers and athists who claim that the (natural) basis of man is Shirk, and that Tawheed evolved in man! The preceeding aayah (verse) falsifies this claim, as do the two following authentic hadith:

Firstly: His (the prophet (sallallaahu `alaihi wasallam) ) saying that he related from his Lord (Allah) : "I created all my servants upon the true Religion (upon Tawheed, fre from Shirk). Then the devils came to them and led them astray from their true Religion. They made unlawful to people that which I had made lawful for them, and they commanded them to associate in worship with Me, that which I had sent down no authority."(3)

Secondly:His (the prophet (sallallaahu `alaihi wasallam) ) saying: " Every child is born upon the Fitrah(4) but his parents make him a jew or a christian or a magian. It is like the way an animal gives birth to a natural offspring. have you noticed any born mutilated, before you mutilate them."

Abu Hurayrah said: Recite if you wish: "Allah's fitrah with which He created mankind. There is to be no change to the creation (Religion) of Allah."(Surah ar-Rum 30:30)(5)
After this clear explanation, it is of the upmost importance for the Muslim to know how Shirk spread amongst the believers, after they were muwahhideen (people upon Tawheed)
Concerning the saying of Allah - the most perfect - about the people of Nooh: "And they have said : You shall not forsake your gods, nor shall you forsake Wadd, nor Suwaa', nor Yaghooth, nor Ya'ooq, nor Nasr."
(Surah Nooh 71:23)

It has been related by a group from the Salaf (Pious Predecessors), in many narrations, that these five deities were righteous worshippers. However, when they died, Shaytaan (Satan) whispered into their people to retreat and sit at their graves. Then Shaytaan whispered to those who came after them that they should take them as idols, beautifying to them the idea that you will be reminded of them and thereby follow them in righteous conduct. Then Shaytaan suggested to the third generation that they should worship these idols besides Allah - the most high - and he whispered to them that this is what their forefathers used to do!!!

So Allah sent to them Nooh (as), commanding them to worship Allah alone. However none responded to hiscall except a few. Allah - the mighty and majestic - related this whole incident in surah Nooh

Ibn 'Abbas relates:
"Indeed these five names of righteous men from the people of Nooh. When they died Shataan whispered to their people to make statues of them and to place these statues in their places of gathering as a reminder of them, so they did this.

However, none from amongst them worshipped these statues, until when they died and the purpose of the statues was forgotten. Then (the next generation) began to worship them."(6)
The likes of this has also been related by Ibn Jareer at-Tabaree and others, from a number of the salaf (Pious Predecessors) - radiallaahu 'anhum.
In ad-Durral-Manthoor (6/269):

'Abdullaah ibn Humaid relates from Abu Muttahar, who said: Yazeed ibn al-Muhallab was mentioned to Abu Ja'far al-Baaqir (d.11H), so he said: He was killed at the place where another besides Allah was first worshipped. Then he mentioned Wadd and said: "Wadd was a Muslim man who was loved by his people. When he died, the people began to gather around his grave in the land of Baabil (Babel), lamenting and mourning. So when Iblees (Satan) saw them mourning and lamenting over him, he took the form of a man and came to them, saying : I see that you are mourning and lamenting over him. So why don't you make a picture of him (i.e. a statue) and place it in your places of gatherings so that you maybe reminded of him. So they said: Yes, and they made a picture of him and put in their place of gathering; which reminded them of him.

When Iblees saw how they were (excessively) remembering him, he said : "Why doesn't every man amongst you make a similar picture to keep in your own houses, so that you can be (constantly) reminded of him." So they all said "yes". So each household made a picture of him, which they adored and venerated and which constantly reminded them of him.

Abu Ja'far said: "Those from the later generation saw what the (pevious generation) had done and considered that........to the extent that they took him as an ilah (diety) to be worshipped besides Allah. He then said :" This was the first idol worshipped other than Allah, and they called this idol Wadd"(7)

Thus the wisdom of Allah - the Blessed, the Most High - was fufilled, when he sent Muhammed (sallallaahu `alaihi wasallam) as the final prophet and made his Sharee'ah the completion of all divinely Prescribed Laws, in that He prohibited all means and avenues by which people may fall into Shirk - which is the greatest of sins.

For this reason, building shrines over graves and intending to specifically travel to them, taking them as places of festivity and gathering and swearing an oath by the inmate of a grave; have all bee prohibited.

All of these lead to excessiveness and lead to the worship of other than Allah - the Most High. This being the case even more so in an age in which knowledge is diminishing, ignorance is increasing, thre are few sincere advisors ( to the truth) and shaytaan is co-operating with men and jinn to misguide mankind and to take them away from the worship of Allah alone - the Blessed, the Most High.

Notes
(1) Tahdheerus-Saajid min Ittikhaadhil-Quboori Masaajid (pp.101-106)
(2) Related by Ibn Jareer at-Tabaree in his tafseer (4/275) and al-Haakim (2/546) who said: "It is authentic according to the criterion of al-Bukhari." Adh-Dhahabee also agreed.
(3) Al-Khawaakibud-Duraaree fee Tarteeb Musnadul-Imaam Ahmad'alaa Abwaabil-Bukhaaree (6/212/1), still in manuscript form.
(4) Related by Muslim (8/159) and Ahmad (4/162) from 'Iyaadh ibn Himaar al-Mujaashi'ee radiallaahu 'anhu
(5) [From the Editors] Ibn-al-Atheer said in an-Nihaayah (3/457): "Al-Fitr: means to begin and create, and al-Fitrah is the condition resulting from it. The meaning is that mankind were born upona disposition and a nature which is ready to accept the true Religion. So if he were to be left upon this, then he would continue upon it. However, those who deviate from this do so due to following human weaknesses and blind following of others....."
Al-Haafidh Ibn Hajar said in Al-Fath (3/248): "The people differ concerning what is meant by al-Fitrah and the most famous saying is that it means Islam. Ibn 'abdul-Barr said: That is what was well known with most of the salaf (pious predecessors), and the scholars of tafseer are agreed that what is meant by the saying of Allah - the Most High - "Allah's fitrah with which He created mankind." is Islam
(6) Related by Al-Bukhaaree (11/418) and Muslim (18/52)
(7) Realted by al-Bukhaaree (8/534)
(8) Related by Ibn Abee Haatim also, as is in al-Kawaakibud-Duraaree (6/112/2) of Ibn 'Urwah al-Hanbalee, along with an isnaad which is Hasan, up to Abu Muttahar. However, no biography could be found for him, neither in ad-Dawlaabee's al-Kunaa wal-Asmaa, nor Muslim's al-Kunaa, nor any one elses. And the hidden defect here is that he is from the Shee'ah, but his biography is not included in at-Toosee's al-Kunaa -- from the index of Shee'ah narrators
Copy From:
http://www.albani.co.uk

Sabtu, 12 Juli 2008

Syirik

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) ALLAH, maka pasti ALLAH mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah: 72)

PENGERTIAN SYIRIK
Dalam Tahdzib Al-Lughah 10/16 disebutkan, Syirik atau mempersekutukan ALLAH maksudnya adalah membandingkan ALLAH dengan yang lain. Barangsiapa membandingkan ALLAH dengan sesuatu dari makhluk-NYA, maka dia telah syirik, karena ALLAH itu Esa, tidak ada sekutu bagi-NYA.
Berkata Ar-Raghib Al-Ashbahany, “Syirik besar adalah menetapkan sekutu bagi ALLAH Ta’ala. Apabila dikatakan ‘Si Fulan telah syirik kepada ALLAH’, maka yang demikian itu sebesar-besar kekufuran.”
Orang Musyrik menurut As-Suwaidy adalah orang yang melakukan perbuatan syirik walaupun hanya sebagian, lewat perkataan, keadaan, perbuatan, keyakinan, muamalah, ataupun persetujuannya. Atau dia menganggap bagus perbuatan syirik dan ridha mengucapkan atau mendengarkan perbuatan itu.
Orang yang berbuat syirik maka telah rusak atau batal ketauhidannya. Sebab prinsip dari tauhid adalah memurnikan keyakinan “Tiada Ilah Selain ALLAH dan tidak mempersekutukannya dengan segala sesuatu.”


BAHAYA SYIRIK
1. Mengakibatkan Kehinaan Manusia
Masalah ini timbul karena manusia beribadah kepada selain ALLAH, yaitu kepada sesama makhluk, menjadikannya ma’bud (yang disembah) dan ditaati, padahal dia tidak bisa memberi manfaat atau mudharat. Dia hanya sesama makhluk yang tidak mempunyai kekuasaan sedikitpun. Bahkan manusia itu berbuat lebih hina lagi, mereka menyembah sesuatu yang lebih rendah dari mereka. Seperti sapi, pohon, dan batu. Patutkah manusia yang berakal dan dimuliakan melakukan hal itu? Dan adakah kehinaan yang lebih rendah dari itu?
2. Menyuburkan khurafat
Masalah ini timbul karena manusia meyakini bahwa dari kalangan makhluk ada yang bisa memberi manfaat dan madharat. Dari keyakinan itu terjadilah khurafat dan cerita-cerita palsu yang tidak masuk akal.
3. Merupakan Kezhaliman Terbesar
ALLAH berfirman: “… Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Baqarah: 254) dan “sesungguhnya mempersekutukan (ALLAH) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)
Tidakkah anda sadari mempersekutukan ALLAH adalah kezhaliman yang terbesar? Bukankah ALLAH yang telah menciptakan anda? DIA pula yang memberi rejeki tapi anda bersyukur kepada selain-NYA?
4. Menimbulkan Rasa takut
Orang yang berbuat syirik tidak percaya kepada ALLAH dan tidak bertawakal kepada-NYA. Ia terombang-ambing di antara keragu-raguan dan khurafat. Ia takut tentang hidupnya, rezekinya, serta tentang segala sesuatu. Keadaan jiwa demikian merupakan kesengsaraan hidup.
5. Menyebabkan keburukan dalam kehidupan manusia
Syirik menjadikan pelakunya bergantung kepada orang lain sebagaimana Nashara kepada Al-masih. Mereka tidak bergantung kepada diri sendiri di samping itu tidak juga kepada ALLAH, tetapi kepada Yesus yang dianggap tuhan.
6. Mengakibatkan Seseorang Masuk Neraka
Syirik merupakan penyebab utama seseorang masuk neraka. ALLAH berfirman, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) ALLAH, maka pasti ALLAH mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah: 72)
Diakhirat nanti orang-orang yang masuk neraka akan diampuni oleh ALLAH dan dikeluarkan dari neraka apabila di hati mereka masih ada iman kepada-NYA, tapi tidak bagi orang yang berbuat syirik, mereka kekal di neraka. ALLAH berfirman, “Sesungguhnya ALLAH tidak akan mengampuni dosa syirik, dan DIA mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-NYA. Barangsiapa yang mempersekutukan ALLAH, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisaa’: 48)
Itulah sebagian bahaya syirik kepada ALLAH dan dampak negatifnya, maka sudah seharusnya dihindari karena syirik adalah perbuatan yang paling bathil. ALLAH melaknat setiap pelakunya dan menetapkan hukum neraka secara qath’i bagi mereka dan kekal di dalamnya.

MACAM-MACAM SYIRIK
Menurut Raghib Al-Ashbahani, kemusyrikan manusia dalam ad- din ada dua macam: pertama Syirik Akbar, yaitu menetapkan sekutu bagi ALLAH Ta’ala yang merupakan kekufuran terbesar. Kedua, Syirik Khafi (tersamar) dan kemunafikan.
Muhammad bin Abdul Wahab menjelaskan bahwa syirik itu terbagi dua, yaitu Syirik Akbar (besar) dan Syirik Asghar (kecil).
Syirik Akbar tidak akan diampuni kecuali dengan jalan bertaubat. Apabila pelakunya meninggal dalam keadaan syirik, maka ia akan kekal dalam neraka selama-lamanya. Macamnya adalah sebagai berikut:

A. Syirik Dalam Doa
ALLAH berfirman, “Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain ALLAH tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (QS. Fathir: 13-14)
B. Syirik Niat, Kehendak dan Tujuan
ALLAH berfirman, “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya KAMI berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)

C. Syirik Dalam Ketaatan
ALLAH berfirman, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain ALLAH dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah TUHAN yang Esa, tidak ada TUHAN (yang berhak disembah) selain DIA. Maha suci ALLAH dari apa yang mereka persekutukan.”(QS. At-Taubah: 31)
Mengenai hal ini, Ibnu Taimiyah menjelaskan, ‘Orang-orang yang menjadikan orang-orang alim (kiyai atau ulama) dan rahib mereka sebagai tuhan adalah dengan cara mereka mentaati orang alim atau rahib mereka dalam menghalalkan apa yang diharamkan oleh ALLAH dan dalam mengharamkan apa yang di halalkan oleh ALLAH.

D. Syirkul Mahabah (Syirik Cinta)
ALLAH berfirman, “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain ALLAH; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai ALLAH. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada ALLAH. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan ALLAH semuanya, dan bahwa ALLAH amat berat siksaan-NYA (niscaya mereka menyesal).(QS. Al-Baqarah: 165)
Orang musyrik itu akan anda dapati mencintai ilah-ilah yang berupa berhala dan lain sebagainya sebagaimana ia mencintai ALLAH, bahkan lebih dari itu. Jika ilah-ilah itu disakiti, maka ia akan marah demi ilah-ilah itu dengan kemarahan yang lebih besar daripada kemarahannya karena ALLAH. Ia pun akan bergembira demi ilah-ilah itu dengan kegembiraan yang tidak sebagaimana kegembiraan karena ALLAH.
ALLAH berfirman, “Dan apabila hanya nama ALLAH saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain ALLAH yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (QS. Az-Zumar: 45)

BENTUK PERBUATAN SYIRIK
Imam Syafi’i melarang semua pengikutnya melakukan semua perbuatan yang bisa mengantarkan seseorang kepada perbuatan syirik, seperti mengapur kubur, meninggikan kubur, mendirikan bangunan di atasnya, memberikan tulisan di atasnya, memberi penerangan (lampu) di atasnya, menjadikannya masjid, shalat di atasnya, menghadap kepadanya ketika berdoa, berthawaf terhadapnya, duduk di atasnya, mencium dan mengelus-elus dengan tangan, memasang atap di atasnya, dan berkata “Demi ALLAH dan Demi kehidupan” atau berkata, “Apa yang dikehendaki ALLAH dan Engkau”.
Imam Syafi’i juga melarang berdoa dan beristighotsah (memohon pertolongan) kepada selain ALLAH, bersujud kepada selain ALLAH, ruku’ kepada selain ALLAH, bernazar kepada selain ALLAH, menyembelih hewan kepada selain ALLAH, meyakini seseorang mengetahui yang ghaib, bersumpah dengan selain ALLAH, meyakini sihir mempunyai kekuatan yang menentukan.
Juga termasuk perbuatan syirik yaitu: memakai gelang atau benang atau lainnya dan dipercayai dapat menjadi pengusir atau penangkal bala’, mempercayai jimat, mantera dan mendatangi dukun dan mempercayainya, mempercayai benda atau pohon atau hewan tertentu mempunyai kekuatan ghaib, seperti keris, batu, cincin, kayu dan lain sebagainya. Mempercayai akan datang kesialan karena ada ular melintas atau memperoleh rejeki karena ada burung berkicau.

“YA ALLAH, sesungguhnya aku berlindung kepada-MU dari perbuatan mempersekutukan-MU dengan sesuatu yang aku mengetahuinya. Dan aku berlindung kepada-MU dari mempersekutukan-MU dengan sesuatu tanpa ku ketahui.”

Kamis, 26 Juni 2008

Kesesatan Ramalan

“Barangsiapa mendatangi arraf (tukang ramal) atau dukun, lalu ia membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW.” (HR. Turmudzi)

Menjelang akhir tahun dan memasuki tahun baru ini tidak saja ramai oleh perayaan dan peringatan menyambutnya. Tetapi ternyata diramaikan pula oleh berbagai ramalan paranormal. Ada yang berdasarkan perjalanan bintang. Ada yang berdasarkan Feng Shui. Ada yang didasarkan kitab-kitab Primbon, wangsit dan sebagainya. mereka ada yang meramalkan akan banyak terjadi bencana alam, seperti gempa, banjir, kecelakaan, bahkan ada yang meramalkan pulau jawa akan tenggelam, dan kerusuhan dan sebagainya. Ada juga yang meramalkan akan banyak terjadi perbaikan-perbaikan, dan sebagainya.
Ramalan-ramalan dari para paranormal tersebut banyak menghiasi berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Sehingga mau tidak mau, kita terus disodori dengan berbagai acara yang menjajakan kesyirikan. Yang terkadang bisa menjadikan kita percaya kepada berbagai ramalan dari paranormal tersebut, apalagi kalau kita melihat ada ’bukti’ dari ramalan mereka.
Bagi orang yang memang hobi dengan klenik, jelas ramalan-ramalan tersebut bagi mereka adalah hal yang wajib diikuti dan harus dijadikan pegangan untuk melangkah ke hari-hari yang akan datang. Bagi mereka penghobi syirik, apa yang dikatakan oleh sang dukun adalah suatu kebenaran. Apabila sang dukun meramalkan kebaikan maka, mereka akan bergembira. Sebaliknya bila sang dukun meramalkan keburukan mereka akan merasakan kesusahan. Untuk menghilangkan kesusahan itu, merekapun biasanya juga minta diberikan petunjuk, ajian, syarat dan lelaku khusus pula untuk menghilangkannya. Dan biasanya, mereka mengikuti petunjuk dari sang dukun dengan antusias dan tanpa banyak pertimbangan. Karena mereka yakin dengan kemampuan sang dukun, yang telah mendapat wisikan dari alam ghaib mengenai nasib mereka.

Rahasia Kehebatan Tukang Ramal
Sering kita dengar bahwa seorang dukun yang belum pernah bertemu sekalipun dengan si ’pasien’, kemudian dapat menebak dengan tepat pada saat pertama kali bertemu mengenai misal, nama, tempat tinggal, kesukaan, masa lalu, sakit yang dialaminya, atau apa yang akan disampaikan pasien tanpa bertanya terlebih dahulu. Hal ini disebut dengan ’Ngerti sak durunge winarah’. Ini akan menambah pamor sang dukun di mata pasien dan akan semakin mantap keyakinannya, serta akan makin pasrah dirinya kepada terhadap sang dukun.
Sebenarnya hal ini bukanlah misteri yang sulit diungkap. Karena sang dukun memiliki ’infojin’ sebagai pencari informasi di dunia manusia. Kemudian informasi tersebut dibisikkan kepada sang dukun sebagai ’CS’-nya. ALLAH telah menyebutkan hal ini di dalam AL-Qur’an, ”Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al-A’raaf: 27)
Dalam hadits shahih juga telah diberitakan mengenai kehebatan para tukang ramal ini. Dari A’isyah, ia berkata, ”Orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang para dukun”, Beliau bersabda, ”Mereka tidak ada apa-apanya.” Para sahabat berkata, ”Wahai Rasulullah, mereka kadang bisa menceritakan sesuatu yang benar kepada kami.” Maka Rasulullah SAW bersabda, ”Kalimat tersebut berasal dari kebenaran yang dicuri oleh jin, kemudian dibisikkan ke telinga para walinya (dukun), kemudian ia menambahnya dengan seratus kedustaan.” (HR. Bukhari-Muslim)

Tak Seampuh Yang Diduga
Seorang dukun yang meramal suatu peristiwa bisa saja benar. Tetapi kekeliruan dari ramalannya jauh lebih banyak. Ibaratnya si dukun meramal 100 hal, yang benar barangkali hanya satu atau dua kali. Tetapi karena rabunnya pikiran orang yang kadung ’beriman’ kepada sang dukun, maka kebenaran yang hanya sesekali itu dijadikan sebagai bukti penguat ’kesaktian’ sang dukun.
Kebenaran adalah dari hasil mencuri dengar berita dari langit. Terkadang sang jin berhasil mencurinya. Terkadang juga belum sempat mendengar apapun, sang jin sudah terkena lemparan bintang. Seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, ”Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (QS. Jin: 8-9)
Rasulullah SAW juga bersabda, ”... dan jin mencuri dengar untuk kemudian dia sampaikan kepada teman mereka (dukun), maka jin-jin itu dilempar dengan bintang.” (HR. Muslim)
Jadi bisa saja benar yang dikatakan oleh dukun, karena sang jin berhasil mendengarkan berita sebelum terkena lemparan panah api. Namun kebenaran tersebut sudah bercampur dengan seratus kedustaan.
Itulah yang sebenarnya terjadi. Sama sekali sang dukun dan juga sang jin tidak mengetahui segala yang ghaib seperti kebanyakan yang disangka oleh penggemar klenik penganut syirik. Hal ini dikabarkan di dalam Al-Qur’an, ”Maka tatkala KAMI telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba’: 14)
ALLAH-lah yang mengetahui segala yang ghaib. Sebagaimana yang ALLAH firmankan, ”(DIA adalah TUHAN) yang mengetahui yang ghaib, maka DIA tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-NYA, maka sesungguhnya DIA Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS. Jin: 26-27)



Hukum Ramalan dan Meminta Diramal
Jadi sekalipun ada kebenaran di
dalam ramalan sang dukun, hal tersebut adalah HARAM. karena hal tersebut adalah perbuatan sebesar-besar dosa, yaitu syirik kepada ALLAH.
”Sesungguhnya ALLAH tidak akan mengampuni dosa syirik, dan DIA mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-NYA. Barangsiapa yang mempersekutukan ALLAH, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’: 48)
Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa mendatangi arraf (tukang ramal) atau dukun, lalu ia membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Turmudzi, Shahih)
”Tidak termasuk golongan kami orang yang meramal atau minta diramal, atau melakukan praktek perdukunan atau minta ditangani dukun, menyihir atau minta disihirkan. Barangsiapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia benar-benar kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad SAW. (HR. Al-Bazzar dengan Isnad yang bagus)

Ke Dukun?! Katakan Tidak!!

“Barangsiapa mendatangi arraf (tukang ramal) atau dukun, lalu ia membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW.” (HR. Turmudzi)

Kita lihat sebagian masyarakat masih suka mendatangi dukun. Yang di KTP mereka jelas tertulis agamanya adalah Islam, tetapi mungkin karena ketidaktahuan atau keterpaksaan atau karena tidak mau tahu, menyebabkan mereka masih menjadikan dukun sebagai solusi dari berbagai permasalahan yang mereka hadapi. Mereka menganggap dukun adalah orang yang dapat memenuhi harapan-harapan mereka.
Mereka yang mendatangi dukun itu, sebagian karena dagangan ingin laris. Karena sakit yang telah lama belum sembuh. Ada yang ingin kaya. Yang ingin naik pangkat. Yang ingin dapat jodoh. Dan masih banyak lagi alasan dan motif mereka ke dukun.
Mereka yang mendatangi dukun ini pun berasal dari berbagai golongan. Dari segi pendidikan, ternyata juga banyak dari dari mereka yang telah berpendidikan tinggi, masih juga mendatangi dukun. Dari segi ekonomi, juga bukan hanya orang golongan ekonomi bawah yang mendatangi dukun, tetapi termasuk golongan menengah ke atas. Bahkan bukan rahasia kalau ada para pejabat, artis atau orang kaya yang menjadikan dukun atau paranormal atau orang pintar atau apapun sebutannya, sebagai guru spiritual mereka. Mereka rajin sowan kesana untuk meminta ‘petunjuk’ atau pertolongan.
Perdukunan ini pun sekarang makin marak. Karena iklan mengenai jasa perdukunan dapat ditemui di berbagai media cetak. Bahkan di TV juga menjamur acara seputar dunia perdukunan, mistik dan klenik ini. Dengan gencarnya berbagai propaganda dan iklan-iklan di berbagai media ini menyebabkan kaburnya pandangan masyarakat terhadap perdukunan. Sehingga apabila dibiarkan dapat merusak aqidah umat Islam.
Setali Tiga Uang
Apapun sebutan dan penampilan dari dukun, maka tetap saja dukun. Entah itu di sebut orang pintar, paranormal, kiyai, orang tua, atau tabib atau apa saja, mereka itu tetap dukun.
Dukun didefinisikan sebagai orang yang mengetahui dan menguasai hal-hal yang ghaib, yaitu mengetahui hal-hal yang belum terjadi atau sudah terjadi. Dan dengan kemampuannya itu ia dapat membantu menyembuhkan orang yang sakit, mencari barang yang hilang, melakukan sihir (berupa pelet, guna-guna, santet dan sebagainya), atau memiliki berbagai kesaktian, seperti kebal, bisa menghilang dan sebagainya. Dan berbagai kemampuan lainnya yag berkaitan dengan dunia ghaib.
Dan dalam prakteknya dukun menggunakan media-media klenik, berupa benda-benda pusaka, seperti keris, batu, kayu atau benda-benda lain yang dianggap mempunyai kekuatan ghaib. Atau media lain berupa menyembelih binatang, misal ayam, atau kambing dan sebagainya.
Selain itu, sang dukun juga meminta ‘sesaji’ sebagai syarat yang harus dipenuhi oleh si empunya hajat. Sesaji ini dapat berupa jeruk nipis, kembang setaman, minyak wangi dan sebagainya.
Jadi walaupun sang dukun berpenampilan seperti Ustad, tetapi melakukan praktek seperti tersebut di atas, maka dia adalah dukun. Walaupun yang dibacanya sebagian adalah Al-Qur’an, tapi dapat dipastikan dia juga menyebut nama-nama selain ALLAH dan meminta pertolongan kepada selain ALLAH.

Syirik
Fenomena di atas sungguh sangat menyedihkan. Karena pelakunya adalah kaum mukmin yang di wajibkan memegang Tauhid dan menjauhi syirik sebagai prinsip iman dan aqidahnya.
Dalam Islam, mendatangi dukun adalah perbuatan yang menjadikan pelakunya berbuat syirik kepada ALLAH dan merupakan sebesar-besarnya dosa.
ALLAH telah berfirman, “Sesungguhnya ALLAH tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan ALLAH, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48)
Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa ALLAH tidak mengampuni dosa syirik, dalam arti tidak mengampuni seorang hamba yang menjumpai-NYA (mati) dalam keadaan musyrik.
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, aku bertanya: “Ya Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?” Rasulullah SAW bersabda, “Engkau menjadikan tandingan bagi ALLAH, padahal DIA-lah yang telah menciptakanmu.” (HR. Bukhari-Muslim)

Hukum Mendatangi Dukun
Mendatangi dukun itu mempunyai beberapa akibat bagi pelakunya, yaitu:
1. Menjadi kafir.
• Berdasarkan hadits, Dari Abu Hurairah, “Barangsiapa mendatangi arraf (tukang ramal) atau dukun, lalu ia membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah, Shahih)
• Dari Imran bin Hushain, “Tidak termasuk golongan kami orang yang meramal atau minta diramal, atau melakukan praktek perdukunan atau minta ditangani dukun, menyihir atau minta disihirkan. Barangsiapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia benar-benar kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad SAW.” (HR. Al-Bazzar)
2. Shalatnya Tidak Diterima
Berdasarkan hadits dari Hafshah, “Barangsiapa mendatangi tukang ramal dan menanyakan kepadanya tentang sesuatu, lalu ia membenarkan apa yang dikatakannya, maka shalatnya tidak diterima.” (HR. Muslim)
3. Kekal Di Neraka
• “Sesungguhnya ALLAH tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan ALLAH, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48)
• “Sesungguhnya ALLAH tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan ALLAH, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 116)
• “Barangsiapa yang mati dalam keadaan menyekutukan ALLAH dengan sesuatu, pasti masuk neraka.” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, wajib bagi seorang mukmin menjadikan ALLAH hanya sebagai satu-satunya tempat menyembah dan memohon pertolongan “Hanya ENGKAU-lah yang kami sembah, dan hanya kepada ENGKAU-lah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5) dan kepada-NYA jualah bertawakkal, ALLAH berfirman: “Katakanlah: “Cukuplah ALLAH bagiku." Kepada- NYA-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az-Zumar: 38)

JEBAKAN KERAMAT

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain ALLAH; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.”
(QS. Yunus: 106)
Makam Keramat, keris keramat, gua keramat, dan banyak macam lagi. Meski berawal dari makna karomah yang berarti kemuliaan, segala kekeramatan ini nyatanya bisa membawa orang menuju penyimpangan akidah.
Hampir di setiap daerah di Indonesia terdapat tempat-tempat “Istimewa” yang menjadi tujuan ziarah. Hari-hari menjelang datangnya Ramadhan, selepas Ramadhan, Rabiul Awwal (bulan Maulid) adalah waktu yang seringkali dipilih untuk mengunjungi tempat-tempat ziarah itu. Selain mereka yang datang itu secara pribadi atau bersama keluarga, tidak jarang sebuah majelis ta’lim mengoordinir keberangkatan jamaahnya untuk berangkat ke tempat-tempat itu. Berbondong-bondonglah orang datang ke tempat itu.
Harapan para peziarah beraneka rupa. Tapi sangat banyak yang berintikan permohonan. Mengapa memohon di tempat-tempat itu, karena, kata mereka tempat-tempat itu merupakan tempat keramat. Bukan sembarang tempat. Ada yang bentuknya kuburan, goa, bukit atau gunung. Dan tidak sedikit pula yang dikeramatkan selain tempat, yaitu berupa patung, batu, keris, atau benda-benda pusaka lainnya.
Berkaitan dengan dengan tempat-tempat yang dikeramtkan, biasanya beredar mitos-mitos dan cerita keanehan yang disampaikan dari mulut ke mulut. Tentu saja mitos itu tidak dapat dibuktikan. Tapi herannya mereka sangat menyakini mitos tersebut. Misalnya saja mitos tentang sebuah gua di Tasikmalaya. Sebagian orang mempercayai itu adalah jalan menuju Mekkah. Sampai-sampai ada yang meyakini bahwa bila orang berhasil masuk ke dalamnya berarti dia sudah pergi ke Mekkah (naik Haji). Atau orang yang mendatangi gunung Kawi. Mereka yang pergi ke tempat tersebut karena di dorong keyakinan, kalau ingin menjadi kaya harus berziarah kesana. Tentu dengan berbagi ‘lelaku’ dan syarat tertentu yang harus dipenuhi.
Bagaimana menurut Islam, adakah keramat atau karomah itu? Islam sesungguhnya mempunyai sikap yang jelas tentang hal itu. Tujuannya adalah untuk menjaga agar keimanan manusia tidak terkotori oleh aneka bentuk kesyirikan. Pengabdian kepada ALLAH tidak boleh ternodai sedikitpun oleh pemujaan ataupun ketergantungan kepada makhluk.
ALLAH berfirman, “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya TUHAN kamu itu adalah TUHAN yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan TUHAN-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada TUHAN-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Inilah beberapa prinsip dalam akidah Islam yang harus menjadi pegangan dalam hal ini:
Pertama, manusia adalah makhluk paling mulia di muka bumi. ALLAH telah mengangkat derajat manusia di atas makhluk yang lain. Adalah merupakan kehinaan jika manusia bergantung kepada makhluk lain. ALLAH telah berfirman, “Dan sesungguhnya telah KAMI muliakan anak-anak Adam, KAMI angkut mereka di daratan dan di lautan, KAMI beri mereka rezki dari yang baik-baik dan KAMI lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah KAMI ciptakan.” (QS. Al-Isra: 70)
Kedua, benda-benda itu tunduk kepada aturan ALLAH (sunatullah) dan tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat kepada manusia tanpa seizin ALLAH. Nabi Ibrahim, sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an, hampir memuja bintang, bulan dan matahari. Tapi setelah terbukti bahwa semua itu tidak punya kekuatan apapun yang menjadikannya berhak disembah, bahkan mereka tunduk pada sebuah batasan yang ALLAH tetapkan bagi mereka, maka Nabi Ibrahim pun berpaling darinya untuk menghadap hanya pada ALLAH saja. ALLAH berfirman, “Dan demikianlah KAMI perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (KAMI yang terdapat) di langit dan bumi dan (KAMI memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku." Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat." Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar." Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada RABB yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan TUHAN.” (QS. Al-An’am: 75-69)
Ketiga, Rasulullah SAW telah menegaskan hanya ada tiga tempat yang boleh menjadi tujuan perjalanan ‘khusus’. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan sabda Rasulullah SAW, “Tidak ada perjalanan yang harus didorong dengan kuat kecuali ke tiga tempat, yakni Masjid Haram, Masjidil Aqsha, dan Masjidku (Masjid Nabawi).”
Maksud hadits ini adalah terlarang menjadikan suatu tempat sebagai tujuan perjalanan yang dianggap sebagai ibadah. Hanya tiga tempat itulah yang dianggap sakral. Adapun tempat lain haruslah dianggap sebagai tempat biasa. Namun demikian, kelebihan ketiga tempat tersebut bukan terletak pada keramat tempatnya, tapi pada pahala yang ALLAH lipat gandakan apabila kita shalat di tiga masjid.
Keempat, Rasulullah SAW melarang kaum Muslimin menjadikan tempat atau benda keramat. Pada suatu hari beberapa orang yang baru saja masuk Islam, bersama Rasulullah SAW melewati sebuah pohon di mana orang-orang musyrik biasa bertapa dan menggantungkan pedang-pedang mereka di sana. Pohon itu disebut Dzatu Anwath. Orang-orang itu mengatakan, “Ya Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka punya Dzatu Anwath.” Rasulullah SAW mencegah mereka dengan mengatakan, “ALLAH Maha Besar. Itu adalah cara orang-orang musyrik. Kalian telah mengatakan apa yang dikatakan Bani Israil, ‘Buatkanlah untuk kami tuhan-tuhan (patung-patung) sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.’ Sungguh mereka itu orang-orang yang bodoh.” (HR. Tirmidzi)
Kelima, Umar bin Khaththab pernah memerintahkan menebang pohon (Syajaratur Ridwan) karena banyak yang mendatangi dan shalat (berdoa) di sekitarnya. Begitu pula pada waktu lain, Umar pernah berbicara di depan Hajar Aswad, “Aku tahu bahwa kamu adalah batu yang tidak dapat memberikan manfaat maupun mudharat. Seandainya aku tidak melihat Rasululah SAW menciummu niscaya aku tidak akan menciummu.”
Selain itu, beribadah berupa melakukan shalat dikuburan sekalipun di kuburan Nabi, dan berdoa dengan bertawasul kepada orang yang telah mati merupakan perbuatan syirik yang dilarang. Rasulullah SAW telah memperingatkan, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat beribadah, tetapi janganlah kamu menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan hal itu.” (HR. Muslim)
Al-Khalkhali berkata, “Pengingkaran Nabi SAW terhadap perbuatan mereka
tersebut dapat diartikan dalam dua makna. Pertama, bahwa mereka bersujud terhadap kuburan para Nabi untuk mengagungkan utusan ALLAH tersebut. Kedua, bahwa mereka menganggap boleh melakukan shalat di kuburan para nabi dan menghadap ke arahnya ketika melakukan shalat, karena mereka memandang hal tersebut sebagai bentuk ibadah kepada ALLAH dan merupakan cerminan sikap pengagungan kepada para Nabi tersebut. Makna pertama merupakan Syirik Jaly (syirik tampak jelas) dan makna yang kedua adalah Syirik Khafi (syirik tersembunyi), oleh karena itu mereka berhak dilaknat.”
Ingatlah, bahwa berdoa dan memohon kepada ALLAH bisa dilakukan dimana pun karena ALLAH itu dekat dan Maha Mendengar. Oleh karena itu, penuhilah syarat-syarat berdoa, antara lain ikhlas, khusyu’, dan yakin bahwa ALLAH akan mengabulkan doa yang kita panjatkan. Dan perantara (tawasul) yang di syariatkan hanyala bertawasul dengan Nama-nama dan Sifat-sifat ALLAH, dengan amal shalih yang kita lakukan dan meminta kepada orang shalih yang masih hidup agar mendoakan kita.

Sumber: Ummi No. 06 Oktober 2007

Azimat Pembawa Petaka

Azimat Pembawa Petaka

Sungguh jika engkau menyekutukan ALLAH, benar-benar akan hancur amalanmu dan sungguh benar-benar engkau akan menjadi golongan orang-orang yang merugi (QS. Az-Zumar: 65)

Saat ini, klenik bukan suatu yang dianggap tabu dan memalukan. Bahkan terkesan menjadi suatu komoditi yang menguntungkan banyak pihak. Kita lihat di berbagai media, dunia klenik menjadi salah satu daya tarik yang banyak digemari peminatnya. Di media elektronik, ada acara “Pemburu Hantu”, Uka-uka, sinetron Tuyul dan Mbak Yul, Jini oh Jini dan sebagainya. Bahkan saat ini untuk media cetak telah diterbitkan majalah khusus mengenai dunia klenik dan produknya, seperti majalah “M”. Juga kita lihat berbagai iklan dan tawaran pelayanan jasa klenik di koran atau majalah atau tabloid dari para tokohnya yang disebut dengan berbagai gelar seperti kiyai, orang pintar, tabib, paranormal dan sebagainya.
Derasnya gelombang acara klenik di berbagai media ini, cepat atau lambat akan merusakkan aqidah dan keimanan umat Islam. Paling tidak, orang yang minim pengetahuan agamanya akan menganggap bahwa hal tersebut adalah hal-hal lumrah yang tidak berbahaya. Padahal, kalau sampai kita terjatuh ke dalam kesyirikan, maka kita telah terjatuh ke sebesar-besarnya dosa.
ALLAH berfirman, ”sesungguhnya mempersekutukan (ALLAH) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)
Dan bila mati dalam keadaan syirik, maka dosa itu tidak akan diampuni ALLAH dan akan mengakibatkan kekal di Neraka. Dalam ayat yang lain ALLAH juga berfirman, ”Sesungguhnya ALLAH tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan ALLAH, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’: 48).
Ajimat Termasuk Syirik
Salah satu produk dari jasa perdukunan adalah Ajimat. Ajimat ini dijadikan oleh para dukun untuk mengatasi berbagai keluhan dari para pasiennya. Yang dalam memperolehnya biasanya disertai dengan syarat-syarat tertentu dan lelaku tertentu. Dan biasanya, makin ampuh ajimat itu akan makin mahal pula harga yang dibandrol oleh para ”orang pintar” tersebut. Tapi bagi para penggemar klenik yang yang sudah rabun pikirannya tetap menjadi barang buruan yang sangat dicari, berapapun harganya pasti akan mereka bayar.
Ajimat ini dapat berasal dari berbagai macam bahan, seperti kertas bertulis ayat-ayat Al-Qur’an, huruf-huruf hijaiyah atau angka-angka, atau berbagai simbol yang tidak dapat diketahui maknanya. Ada juga yang berbahan dari benang, kulit hewan, batu, kayu dan lain sebagainya.
Biasanya ajimat ini dipakai sebagai kalung, cincin, sabuk, seperti yang dipakaikan pada anak kecil untuk mencegahnya dari sawan. Atau juga dipasang dan digantungkan di pintu-pintu rumah.
Ajimat adalah benda benda yang dipercaya dapat menghilangkan kesialan, musibah, atau juga dapat mendatangkan kebaikan, seperti mendatangkan rezeki, menjadikan dicintai, dihormati ataupun disegani dan sebagainya.
Keyakinan mereka seperti ini, yaitu mempercayai bahwa suatu balak atau musibah dapat ditolak dengan menggunakan ajimat tertentu, atau rejeki akan berlimpah ruah dengan memakai ajimat tertentu. Maka, mereka telah terjatuh ke dalam kesyirikan.
Rasululah SAW bersabda, ”Sesungguhnya jampi-jampi, ajimat, dan pelet adalah syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Juga dalam riwayat lainnya, Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa menggantungkan ajimat, sungguh ia telah melakukan kesyirikan.” (HR. Hakim dan Ahmad)

Pembawa Petaka
Sesungguhnya ajimat sedikitpun tidak dapat menolak mudharat atau mendatangkan manfaat. Bahkan sebaliknya, ALLAH membantah keyakinan mereka itu dengan keras. ALLAH berfirman, ”Jika ALLAH menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali DIA. Dan jika ALLAH menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-NYA.” (QS. Yunus: 107)
Juga kepercayaan kepada ajimat ini adalah perbuatan syirik yang akan menghapuskan amal kebaikan dari diri si pelaku. ALLAH berfirman, ”"Jika kamu mempersekutukan (TUHAN), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)
Dan ALLAH mengharamkan surga baginya, ALLAH berfirman, ”Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) ALLAH, maka pasti ALLAH mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah: 72)
Rasulullah SAW juga menegaskan, jika seseorang mati dalam keadaan membawa dosa syirik, maka tempatnya adalah di neraka. Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa menemui ALLAH dalam keadaan menyekutukan sesuatu dengan-NYA, ia akan masuk neraka.” (HR. Bukhari-Muslim)
Mudharat lain dari orang yang memakai jimat adalah dia tidak akan disempurnakan urusannya dan tidak diberi ketenangan. Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka tidaklah ALLAH akan mnyempurnakan urusannya dan barangsiapa yang meggantungkan (ajimat berupa) karang laut, maka tidaklah ALLAH akan memberikan ketenangan kepadanya.” (HR. Ahmad)
Orang yang memakai jimat juga tidak akan mendapatkan keberuntungan. Dari Imran bin Hushoin, bahwasanya Nabi SAW melihat seorang laki-laki pada lengan atasnya terdapat sebuah gelang berasal dari tembaga, maka Rasulullah SAW bersabda, ”Apa ini?”, Ia menjawab, ”(aku memakainya dengan sebab menolak) Wahinah (penyakit).” Maka Nabi SAW menjawab, ”Lepaskanlah! Sebab tidaklah ia menambah kepadamu kecuali kelemahan dan penyakit. Kalau seandainya kamu meninggal dan benda itu ada padamu, tidaklah engkau beruntung selama-lamanya.” (HR. Ahmad)
Demikianlah ajimat yang dipersangkakan dapat menghilangkan mudharat dan mendatangkan berbagai manfaat, ternyata tidak ada kebaikan di dalamnya bahkan menimpakan malapetaka bagi pemakainya.
Naudzubillahi min dzalik. Kepada ALLAH saja bertawakal orang-orang yang beriman. Dan bacalah doa di bawah ini, semoga ALLAH menghindarkan dari perbuatan syirik kepadanya:
”Ya ALLAH, aku berlindung kepada‐MU dari perbuatan menyekutukan‐MU dengan sesuatu padahal aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampunan kepada‐MU dari dosa yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad)