Rabu, 03 September 2008

LAILATUL QADR

“Sesungguhnya KAMI telahmenurunkannya (Al-Qur’an) pada lailatul Qadr (malam kemuliaan). Dan Tahukah kamu apakah lailatul Qadr itu? Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin RABB-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kedamaian sampai terbit fajar” (QS. Al-Qadr:1-5)

Keutamaan

Dalam surah yang mulia di atas disebutkan beberapa keutamaan dari Lailatul Qadr, yaitu:

  • Keutamaan pertama
Didalamnya ALLAH menurunkan Al-Qur’an, yang dengannya umat manusia mendapatkan petunjuk serta meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

  • Keutamaan kedua
Kalimat tanya yang disebutkan dalam ayat tersebut menunujukkan keagungannya, yaitu firman ALLAH: “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan (Lailatul Qadr) itu?

  • Keutamaan ketiga
Ia lebih baik dari seribu bulan.

  • Keutamaan keempat
Ia merupakan malam kedamaian (keselamatan) dan kesejahteraan, karena banyaknya orang yang selamat dari hukuman dan adzab.

  • Keutamaan keenam
Seperti yang diriwayatkan dalam Shahihain dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda: “Siapa yang bangun (beribadah) pada malam Lailatul Qadr atas dasar keimanan dan perhitungan (mengharap pahala), maka dosanya yang telah lalu diampuni (oleh ALLAH).”

Yang dimaksud dengan kalimat atas dasar keimanan dan perhitungan adalah keimanan kepada ALLAH berupa pahala bagi orang-orang yang beribadah di dalamnya serta perhitungan mendapatkan pahala dan meminta balasan dari ALLAH. Ini dapat diraih oleh orang yang mengetahuinya maupun yang tidak mengetahuinya. Sebab, Nabi SAW tidak mensyaratkan peraihan pahala hanya bagi orang yang mengetahui saja.


Waktu Terjadinya

Lailatul Qadr itu terjadi pada bulan Ramadhan. Sebab ALLAH menurunkan Al-Qur’an di dalamnya. ALLAH telah memberitahukan bahwa turunnya Al-Qur’an itu terjadi pada bulan Ramadhan. Firman ALLAH, “(beberapa hari yang telah ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah:185)

Dengan demikian, menjadi jelaslah bahwa Lailatul Qadr itu terjadi pada bulan Ramadahan sepanjang masa. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Nasa’I dari Abu Dzar, bahwa ia berkata: “Ya Rasulullah, beritahukan kepada kami mengenai Lailatul Qadr, apakah ia terjadi bulan Ramadhan atau di bulan yang lainnya?” Beliau SAW menjawab: “Ia hanya ada di bulan Ramadhan.” Ia berkata: “Apakah ia berada pada setiap nabi dimana dan kapan pun ia berada, dan ketika mereka dipanggil ALLAH lalu Lailatul Qadr itu diangkat atau masih tetap ada hingga hari kiamat?” Beliau SAW menjawab: “Ia akan terus ada hingga hari kiamat.”

Lailatul Qadr itu terjadi pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Nabi SAW bersabda: “Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Lebih dekat lagi adalah pada tanggal-tanggal ganjil daripada tanggal-tanggal genap. Ini berdasarkan sabda Nabi SAW: “Carilah Lailatul Qadr pada tanggal ganjil dari sepuluh hari terakhir Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Dan lebih dekat lagi adalah pada tujuh hari terakhir dari bulan Ramadhan, berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar bahwa pernah ada sahabt Nabi SAW yang mendapatkan mimpi Lailatul Qadr pada tujuh hari terakhir dari bulan Ramadhan, lalu Nabi SAW bersabda, “Aku lihat mimpi kalian itu benar-benar tepat pada tujuh hari terakhir. Maka barangsiapa yang mencarinya hendaklah ia terus mencarinya pada tujuh hari terakhir.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Juga sabda Nabi SAW, “Carilah ia pada sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang diantara kalian merasa lemah atau tidak mampu, maka jangan sampai terkalahkan (tidak bisa mencarinya) pada tujuh hari sissanya.” (HR. Muslim)

Lalilatul Qadr ini tidak hanya terjadi pada malam tertentu pada setiap tahunnya, akan tetapi ia akan berpindah-pindah dari satu malam ke malam lainnya, sehingga bisa jadi pada suatu tahun ia terjadi pada malam keduapuluh tujuh, dan pada tahun berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima-misalnya, sesuai dengan lkehendak ALLAH dan hikmah-NYA. Hal ini ditunjukkan hadits Nabi SAW yang menyatakan: “Carilah ia pada malam sembilan malam terakhir, tujuh malam terakhir, dan malam lima terakhir.” (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan: “Pendapat yang kuat adalah bahwa Lailatul Qadr terjadi pada tanggal ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, dan bahwa ia berpindah-pindah.”

ALLAH sengaja menyembunyikan kepastian malamnya kepada para hamba sebagai bentuk rahmat (kasih sayang) terhadap mereka agar amalan mereka menjadi banyak, karena mereka selalu mencarinya dengan bertaqarrub illallah, seperti mengerjakan shalat, berdzikir dan berdoa sehingga mereka semakin dekat dengan ALLAH dan semakin banyak pula pahala yang mereka peroleh.

Di samping itu kerahasiaan Lailatul Qadr ini adalah untuk menguji mereka, agar menjadi jelas siapa yang bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam mencarinya dari orang yang bermalas-malasan dan meremehkannya. Orang yang bersemangat dan tamak terhadap sesuatu maka sudah tentu ia bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya dan pantang merasa lelah dalam rangka meraihnya.

Di malam Lailatul Qadr itu pintu menuju ALLAH dibuka lebar, yang mencintai-NYA didekatkan, semua permohonan dikabulkan dan pahalanya digandakan.

Apa Yang Harus Kita lakukan?

Setelah kita mengetahui begitu banyak keutamaan Lailatul Qadr, maka sudah sepantasnya kita bersungguh-sungguh untuk mendapatkan setiap keutamaannya, yaitu dengan beribadah semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.

Dan jangan lupa, jenis ibadah yang kita lakukan pada malam tersebut masih tetap harus mengacu dan mencontoh kepada Rasulullah SAW, jangan sampai melakukan ibadah-ibadah yang tergolong syirik dan bid’ah.

Tidak disyariatkan untuk mencari malam Lailatul Qadr ke tempat-tempat sepi atau keramat, seperti kuburan wali, gua, hutan dan sebagainya apalagi sambil membawa sesaji. Hal ini, bukan hanya tidak membawa manfaat malah mendatangkan murka ALLAH.

Menurut sunnah Rasulullah SAW untuk mendapatkan berkah malam Lailatul Qadr adalah memperbanyak ibadah-ibadah yang sesuai dengan syariat dan tempatnya adalah di masjid-masjid atau dirumahnya sendiri.

Rasulullah SAW telah mencontohkan ibadah yang utama di sepuluh hari terakhir Ramadhan dalam menyambut kedatangan Lailatul Qadr, yaitu dengan cara:

  • Bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam beribadah
Diriwayatkan dari A’isyah, “Ketika masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, maka Rasulullah SAW mengencangkan sarung, menghidupkan malam dan membangunkan keluarganya.” (HR. Shahihain)

Di sepuluh hari terakhir Rasulullah SAW meningkatkan kesungguhan dalam beribadah jauh melebihi kesungguhannya di hari-hari lain. Kesungguhan Beliau SAW ini meliputi segala bentuk ibadah, baik shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir sedekah dan sebagainya.

  • I’tikaf
Rasulullah SAW di sepuluh hari terakhir Ramadhan melakukan I’tikaf atau menetap dalam masjid dengan memanfaatkan waktu sepenuhnya untuk melakukan ketaatan (ibadah) kepada ALLAH. Seperti yang diriwayatkan dari A’isyah bahwa ia berkata: “Rasulullah SAW melakukan I’tikafpada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Beliau SAW diwafatkan.” (HR. Bukhari-Muslim)


Sumber: Kajian Ramadhon, Al-Utsaimin, Al-Qowam