Minggu, 09 Oktober 2011

HIKMAH ITTIBA' KEPADA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Dari ayat-ayat, hadits-hadits serta penjelasan para ulama tentang wajibnya ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka kita tidak boleh durhaka dan menyalahi jalannya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan dari penjelasan tersebut, kita dapat mengambil manfaat yang banyak sekali, di antaranya :

1. Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah wajib.

2. Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah termasuk iman. Dan tidak dikatakan orang yang beriman, orang yang tidak ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dengan dasar surat an Nisaa’ ayat 65.

3. Mencintai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah wajib. Setiap muslim wajib mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :



لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ.

artinya:

Tidaklah beriman seorang di antara kalian, sehingga aku lebih dicintainya melebihi kecintaannya pada anaknya, orang-tuanya dan seluruh manusia. [1]


Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :


ثَلاَ ثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ ، مَنْ كَانَ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَ أَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَ أَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْدَفَ فِي النَّارِ

Ada tiga perkara, yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman. Yaitu : hendaknya Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari selain keduanya; apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah; dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka. [2]


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam wajib dicintai dan melebihi cinta kepada makhluk yang lain. Dan konsekuensi dari cinta kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah ittiba’, dan ini termasuk iman. Jika tidak ittiba’, maka tidak dikatakan beriman.

4. Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan syarat diterimanya amal. Syarat diterimanya amal ada dua, yaitu : ikhlas karena Allah dan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

5. Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan sebab mendapat kecintaan Allah dan RasulNya. Jika kita ingin dicintai oleh Allah dan RasulNya, maka wajib bagi kita untuk ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Termasuk juga bagi para da’i, jika mereka ingin dicintai oleh Allah dan RasulNya, maka mereka harus memulai dakwahnya dengan tauhid, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm tidak pernah mengawali dakwahnya dengan masalah fiqh, politik atau masalah yang lainnya.

6. Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan salah satu sebab dihapusnya dosa-dosa kita.

7. Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan sebab mendapatkan petunjuk, hidayah. Sebagaimana firman Allah :

وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

Artinya:
“Dan jika kamu taat kepadanya (Rasul), niscaya kamu mendapat petunjuk.” [QS. An-Nuur : 54]

Dan kita ini, sangat membutuhkan hidayah. Meskipun Allah sudah memberikan kita nikmat dan hidayah, namun kita masih terus membutuhkan hidayah, sehingga ayat yang kita baca minimal 17 kali dalam sehari adalah permohonan untuk mendapatkan hidayah. Yaitu, “Ya Allah, tunjukilah aku jalan yang lurus”.


Kita sangat membutuhkan hidayah, karena betapa banyak orang yang sesat setelah mereka mendapatkan hidayah. Banyak sekali orang-orang yang tersesat karena tidak mendapatkan hidayah. Dan di antara jalan untuk mendapatkan hidayah tersebut, adalah ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.


Jalan lurus yang kita minta, adalah jalan orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah. Yaitu jalannya para nabi dan rasul, para shiddiqin, para syuhada dan para shalihin. Yang pertama kali disebut adalah jalannya para nabi dan rasul. Sedangkan penghulunya para nabi dan rasul adalah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Jika kita mengikuti jalannya mereka, maka pasti kita akan mendapatkan hidayah.

8. Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi sebab bagi kita mendapatkan rahmat dari Allah. Firman Allah Ta’ala :


وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya:
“Dan taatlah kamu kepada Allah dan RasulNya, agar kamu mendapatkan rahmat.” [QS. Ali Imran: 132]

9. Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam akan membawa kepada keselamatan dunia dan akhirat.

10. Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam akan membuat hati kita hidup. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah engkau penuhi panggilan Allah dan RasulNya, apabila Dia memanggil kepada apa-apa yang menghidupkan kamu...” [QS.al-Anfaal : 24].


Ketaatan kepada Allah dan RasulNya akan menjadikan hati kita hidup. Dan sebaliknya, jika tidak taat, maka hati kita akan mati. Oleh karena itu, hidup matinya hati kita adalah dengan taat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.


Kita bisa bandingkan orang yang ittiba’ dan orang yang berbuat bid’ah. Orang yang berbuat bid’ah, hati mereka sakit, mati, gelap. Perkataan, wajah dan muka mereka dalam keadaan gelap. Mereka akan masuk ke dalam kubur dalam keadaan gelap. Mereka akan meniti shirat dalam kegelapan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Qayyim, “orang yang berbuat bid’ah, terus berada dalam kegelapan dan kegelapan”.

Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dijuluki sebagai cahaya, lampu penerang, yang menerangi, yang menunjuki kita dari kegelapan menuju cahaya. Muka memiliki pengaruh, dari perbuatan dosa dan maksiat. Dan kemaksiatan yang terbesar adalah berupa kesyirikan, kemudian perbuatan bid’ah dan kemungkaran. Dengan sebab perbuatan tersebut, maka Allah menjadikan wajah dan muka dia gelap. Demikian juga nantinya pada Hari Kiamat, sebagaimana disebutkan dalam al Qur`an :


يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ

Artinya:
“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya, (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman?Karena itu, rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”. [QS. Ali Imran : 106].


Menurut Ibnu Katsir, wajah yang bersih tersebut adalah wajahnya Ahlus Sunnah. Sedangkan wajahnya ahlul bid’ah adalah gelap. (Tafsir Ibnu Katsir, I/419).

11. Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam akan mendatangkan keridhaan dari Allah.

12. Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam akan membawa pertolongan, kemenangan.

13. Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam akan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat.

14. Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam akan memasukkan seorang hamba ke dalam surga.

Sedangkan orang yang tidak ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, atau orang-orang yang berbuat bid’ah, maka dia :

· Telah berbuat maksiat kepada Allah.

· Tidak diterima amalnya.

· Tidak sempurna imannya.

· Berada dalam kesesatan yang nyata.

· Akan ditimpa fitnah.

· Akan ditimpa kehinaan, kerendahan.

· Akan mendapat kerugian di dunia dan akhirat.

· Akan mendapatkan kebinasaan.

· Hatinya sakit.

· Mendapat kemurkaan Allah.

· Akan ditimpakan adzab yang menghinakan.

Imam Ibnul Qayyim di dalam kitabnya, Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad [3] menjelaskan tentang wajibnya, manfaat ittiba` kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan bahaya bagi orang-orang yang tidak ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Imam Ibnul Qayyim mengatakan, ucapan dua kalimat syahadat mengandung maksud, bahwa kita wajib mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, kita akan mendapatkan kemuliaan, kecukupan, pertolongan, petunjuk, kebahagiaan dan keselamatan. Dan Allah mengaitkan kebahagiaan dunia dan akhirat dengan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Jika manusia ingin menang dan mulia, maka mereka wajib mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah menjadikan kebinasaan dan kecelakaan di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang menyalahi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dengan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, kita akan mendapatkan petunjuk dan rasa aman, kemenangan dan kemuliaan, pertolongan, dukungan, ketenangan hidup dunia dan akhirat. Orang-orang yang menyalahi Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam akan mendapatkan kehinaan dan kerendahan, rasa takut, kesesatan, kecelakaan di dunia dan akhirat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X/1427H/2006M]

_______
Footnote
[1]. HR al Bukhari no. 15; Muslim no. 44; Ahmad (III/275) dan an Nasa-i (VIII/114-115), dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu

[2]. HR Bukhari no. 16; Muslim no. 43; at Tirmidzi no. 2624; an Nasa-i (VIII/95-96) dan Ibnu Majah no. 4033, dari hadits Anas bin Malik Shallallahu 'alaihi wa sallam

[3]. Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibaad, oleh Ibnul Qayyim, Tahqiq Syu’aib dan Abdul Qadir al Arna-uth (I/37), Cet. Muassassah ar Risalah, Th. 1415 H.

http://almanhaj.or.id