Selasa, 24 Juni 2008

Neraka

“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Apakah belum pernah datang kepadamu Rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat TUHAN-mu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?" Mereka menjawab: "Benar (telah datang)." Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.” (QS. Az-Zumar: 71)
Derita Tiada Tara
Tiada kata yang bisa mewakili gambaran penderitaan penghuni neraka. Terkumpul di dalamnya nestapa dari segala sisi.
Celupan pertama di neraka, menyebabkan penghuninya melupakan seluruh kenikmatan yang pernah dialaminya di dunia. Hingga ia merasa belum pernah mengenyam sedikitpun kenikmatan. Meskipun di dunia dia adalah orang yang paling banyak bergelimang dengan kenikmatan.
Nabi SAW bersabda: “Akan didatangkan pada hari Kiamat, seseorang yang paling banyak mengenyam kenikmatan di dunia, lalu dicelupkan dengan sekali celupan di neraka, lalu ditanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah mendapatkan kebaikan? Adakah kamu pernah mendapatkan kenikmatan?’ Ia menjawab, ‘Belum sama sekali wahai RABBI.’” (HR. Muslim)
Dihitamkan Wajahnya
“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.” (Qs. Ali Imran: 106)
“Dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. Abasa: 40-42)
“Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gelita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yunus: 27)
Yang Ada Hanya Siksa
Siksa yang dahsyat akan meluluh-lantakkan jasadnya, dari ujung kaki hingga ujung rambut, dari kulit terluar hingga bagian perut yang paling dalam.
ALLAH berfirman, “Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur-luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka).” (QS. Al-Hajj: 19-20)
Tentang siksa yang paling ringan di neraka, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya siksa bagi penduduk neraka yang paling ringan pada hari kiamat adalah seseorang yang (ditaruh) kerikil di telapak kakinya lalu mendidih otaknya.” (HR. Bukhari)
Hati akan diliputi ketakutan karena gelap dan kengeriannya. Ditambah rasa putus asa untuk bisa keluar darinya, lantaran begitu dalamnya jurang neraka.
Abu Hurairah menceritakan, “Ketika kami bersama Rasulullah SAW tiba-tiba kami mendengar suara gelegar, lalu Nabi SAW bersabda, ‘Tahukah kalian, suara apakah ini?’ Para sahabat menjawab: ‘ALLAH dan Rasul-NYA lebih tahu.’ Beliau bersabda, ‘Ini adalah suara batu yang dilempar ke neraka sejak tujuh puluh musim, sekarang baru mencapai dasar neraka.’” (HR. Muslim)
Di samping dalam dasarnya, neraka juga ditutup rapat atas penghuninya. ALLAH berfirman, “Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka.” (QS. Al-Humazah: 8)
Api dunia yang tak seberapa panasnya di banding neraka saja manusia tiada yang sanggup bertahan ketika berada dalam sekam yang tertutup rapat, bagaimana dengan api neraka?
Makanan, Minuman dan Tempat Tidurnya
Tak ada setetes embun yang bisa melegakan tenggorokan penduduk neraka, tak ada secercah harapan yang mampu meringankan deritanya. Tiada pula lezatnya makanan yang bsia mengobati rasa lapar mereka. Bahkan makanan dan minuman yang ghalib-nya identik dengan kelezatan, pun menjadi siksa.
Jika mereka lapar, “Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (QS. Al-Ghasyiyah: 6-7)
Jika mereka haus yang mereka dapatkan adalah, “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah.” (QS. An-Naba: 24-25)
Disediakan pula buah untuk mereka. Tapi bukan buah segar yang mengundang selera dan menyehatkan badan, tapi buah Zaqum yang mayangnya seperti kepala setan yang menakutkan. Rasanya? Sangat dahsyat, karena, “Seandainya satu tetes zaqum jatuh ke dunia niscaya akan merusak penduduk bumi dan kehidupan mereka, lalu bagaimana halnya dengan orang yang memakannya? (HR. Tarmidzi, beliau berkata, Hadits Hasan Shahih)
Mereka tidak bisa memejamkan mata untuk tidur walaupun sejenak, betapapun mereka menginginkannya. Karena kasur dan selimutnya berupa api yang membakar tubuhnya.
“Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah KAMI memberi balasan kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-A’raaf: 41)
Berangan-angan Untuk Mati
Orang-orang yang hari ini hobi bergelimang maksiat kepada ALLAH, berangan-angan untuk hidup selamanya. Mereka sama sekali tidak berangan-angan untuk mati.
Tapi, di neraka, kerasnya siksa membuat mereka ingin sekali mati, “Mereka berseru: Hai Malik, biarlah TUHAN-mu membunuh kami saja.” (QS. Az-Zukhruf: 77)
Betapa hinanya mereka, hingga mereka merasa tidak ‘pede’ untuk menyebut ‘RABB-ku’, mereka hanya berani berkata kepada Malik ‘RABB-mu”. Mereka juga tidak berani meminta langsung kepada ALLAH, sehingga mereka mengusulkan kepada Malaikat Malik. Isi usulannya pun sangat menyedihkan, yakni meminta mati. Lebih menyedihkan lagi, ternyata permintaan tersebut tidak dijawab kecuali telah berselang sangat lama. Jawaban yang ditunggu sekian lama itupupun bukan jawaban yang melegakan hati mereka.
Yaitu, “DIA menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).” (QS. Az-Zukhruf: 77)
Ibnu Abbas berkata: ‘Mereka di jawab setelah seribu tahun.’ Yakni tetap kekal di dalam neraka dan kalian tidak akan pernah keluar darinya untuk selamanya. Maka tidak berhasil apa yang mereka inginkan, bahkan mereka dijawab dengan jawaban yang berlawanan dengan keinginan mereka. Sehingga bertambahlah kesedihan mereka.
Allahuma inna nas’aluka jannah wa na’udzubika minan naar